Kitalah Teladan Mereka
Posted by: Admin Posted date: 13.32 / comment : 0
“Ustadzah itu begini dan begitu...” kata itu tertulis pada sebuah kertas yang ditaruh di atas tempat tidur teman saya.
Sesaat setelah membaca tulisan itu, teman saya terduduk lemas. Tangannya gemetar. Air mata mulai menetes mengalir di sela-sela pipinya. Tak disangka, di mata anak-anak ia seperti itu. Ia kemudian menenangkan diri. Diambilnya air wudlu lalu melaksanakan shalat. Kebetulan waktu itu adzan berkumandang.
Setelah sholat ia hanya diam di kamarnya. Tak beranjak walau hanya untuk menengok santri-santrinya. Entah takut atau kalut masih menyelimuti hatinya. Setelah agak sedikit tenang dibacanya kembali surat kaleng itu. Ada satu kata yang begitu menancap di hatinya: “Ustadzah itu nyuruh kami melakukan ini dan itu, tapi ustadzah sendiri gak mau melakukannya!”
Kalimat itu seolah terucap berapi-api. Mencabik-cabik hatinya. Teringat kembali akan surat Ash-Shaff ayat 2-3 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Ini hanyalah cerita singkat mengenai ekspresi seorang santri terhadap ustadzahnya. Ada banyak hal yang disampaikannya. Tapi dari surat itu saya mengambil kesimpulan, bahwa dalam benak santri tersebut ada pertanyaan yang selalu mengeglayuti hatinya, “Mengapa ustadzahku menyuruhku ini dan itu sedangkan beliau sendiri tidak melaksanakannya? Mengapa beliau membuat peraturan ini dan itu sedang beliau tidak mau melaksanakannya?”
Mungkin bagi anak-anak, terutama siswa SMP, hal ini terkesan tidak adil. Dan ini adalah sebuah tanda tanya besar, bagaimana anak-anak bisa mengerjakan kebaikan kalau kita sendiri tak mau melakukannya? Bagaimana anak-anak mau menuruti perintah kita kalau kita sendiri tidak mau mengerjakannya?
Saudaraku... Tentu ini sangat berkebalikan dengan metode mendidik Rasulullah. Dalam sabdanya yang driwayatkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa yang mengatakan pada anak kecil, ‘kemarilah aku beri sesuatu’ namun dia tidak memberi, maka itu ada adalah sebuah kedustaan”.”
Meski hal ini terkesan remeh, secara tidak langsung kita telah mengajarinya berbohong. Kita telah memberi iming-iming palsu sehingga timbullah kekecewaan yang akan membekas dalam ingatan anak tersebut. Yang suatu saat anak itu akan menirunya dengan mengatakan begini, “Aah dulu ibu pernah menjanjikan saya hadiah. Tapi ternyata bohong. Sekarang kalau aku bohong gak apa-apa kan? Kan ibu dulu juga pernah bohong”. Atau misalkan begini “Aah ustadzah saja pernah telat shalat. Jadi kalau kita telat sesekali juga ga apa-apa kan?”
Dalam buku Prophetic Parenting karya DR. Muhammad Nur Abdul Hafiz dijelaskan bahwa seorang anak akan selalu memperhatikan dan meneladani prilaku orang dewasa. Baik itu orang tuanya, saudaranya atau gurunya. Apabila mereka melihatnya berprilaku jujur, mereka akan tumbuh dalam kejujuran. Demikian seterusnya.
Orang dewasa (khususnya kedua orang tua dan guru) selalu dituntut menjadi suri teladan yang baik. Karena seorang anak yang berada di masa pertumbuhan selalu memperhatikan sikap dan ucapan orang tuanya. Dia juga bertanya sebab mereka berlaku demikian.
Selain itu dalam buku 100 Cara agar Anak Bahagia, Dr. Timothy menjelaskan bahwa anak-anak belajar dengan mengamati. Mereka memperhatikan dan menirukan tingkah laku kita. Untuk itu kita harus menjadi teladan yang baik bagi mereka. Apabila kita ingin kata-kata kita didengar oleh mereka.
Oleh karenanya, kalau dulu kita mengatkan “Lakukan sesuai kataku, bukan seperti perbuatanku” maka mari kita buang jauh-jauh kata-kata itu. Karena perbuatan jauh lebih menancap dari perkataan. Anak didik kita akan cenderung meniru perbuatan kita daripada apa yang kita katakan. Sehingga dari situ kita dapat berkaca “Sepeti apakah diri kita?”. Karena anak kita atau anak didik kita adalah cerminan diri kita.
Semoga ini menjadi bahan evaluasi bagi kita...
Wallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]
Sesaat setelah membaca tulisan itu, teman saya terduduk lemas. Tangannya gemetar. Air mata mulai menetes mengalir di sela-sela pipinya. Tak disangka, di mata anak-anak ia seperti itu. Ia kemudian menenangkan diri. Diambilnya air wudlu lalu melaksanakan shalat. Kebetulan waktu itu adzan berkumandang.
Setelah sholat ia hanya diam di kamarnya. Tak beranjak walau hanya untuk menengok santri-santrinya. Entah takut atau kalut masih menyelimuti hatinya. Setelah agak sedikit tenang dibacanya kembali surat kaleng itu. Ada satu kata yang begitu menancap di hatinya: “Ustadzah itu nyuruh kami melakukan ini dan itu, tapi ustadzah sendiri gak mau melakukannya!”
Kalimat itu seolah terucap berapi-api. Mencabik-cabik hatinya. Teringat kembali akan surat Ash-Shaff ayat 2-3 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Ini hanyalah cerita singkat mengenai ekspresi seorang santri terhadap ustadzahnya. Ada banyak hal yang disampaikannya. Tapi dari surat itu saya mengambil kesimpulan, bahwa dalam benak santri tersebut ada pertanyaan yang selalu mengeglayuti hatinya, “Mengapa ustadzahku menyuruhku ini dan itu sedangkan beliau sendiri tidak melaksanakannya? Mengapa beliau membuat peraturan ini dan itu sedang beliau tidak mau melaksanakannya?”
Mungkin bagi anak-anak, terutama siswa SMP, hal ini terkesan tidak adil. Dan ini adalah sebuah tanda tanya besar, bagaimana anak-anak bisa mengerjakan kebaikan kalau kita sendiri tak mau melakukannya? Bagaimana anak-anak mau menuruti perintah kita kalau kita sendiri tidak mau mengerjakannya?
Saudaraku... Tentu ini sangat berkebalikan dengan metode mendidik Rasulullah. Dalam sabdanya yang driwayatkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa yang mengatakan pada anak kecil, ‘kemarilah aku beri sesuatu’ namun dia tidak memberi, maka itu ada adalah sebuah kedustaan”.”
Meski hal ini terkesan remeh, secara tidak langsung kita telah mengajarinya berbohong. Kita telah memberi iming-iming palsu sehingga timbullah kekecewaan yang akan membekas dalam ingatan anak tersebut. Yang suatu saat anak itu akan menirunya dengan mengatakan begini, “Aah dulu ibu pernah menjanjikan saya hadiah. Tapi ternyata bohong. Sekarang kalau aku bohong gak apa-apa kan? Kan ibu dulu juga pernah bohong”. Atau misalkan begini “Aah ustadzah saja pernah telat shalat. Jadi kalau kita telat sesekali juga ga apa-apa kan?”
Dalam buku Prophetic Parenting karya DR. Muhammad Nur Abdul Hafiz dijelaskan bahwa seorang anak akan selalu memperhatikan dan meneladani prilaku orang dewasa. Baik itu orang tuanya, saudaranya atau gurunya. Apabila mereka melihatnya berprilaku jujur, mereka akan tumbuh dalam kejujuran. Demikian seterusnya.
Orang dewasa (khususnya kedua orang tua dan guru) selalu dituntut menjadi suri teladan yang baik. Karena seorang anak yang berada di masa pertumbuhan selalu memperhatikan sikap dan ucapan orang tuanya. Dia juga bertanya sebab mereka berlaku demikian.
Selain itu dalam buku 100 Cara agar Anak Bahagia, Dr. Timothy menjelaskan bahwa anak-anak belajar dengan mengamati. Mereka memperhatikan dan menirukan tingkah laku kita. Untuk itu kita harus menjadi teladan yang baik bagi mereka. Apabila kita ingin kata-kata kita didengar oleh mereka.
Oleh karenanya, kalau dulu kita mengatkan “Lakukan sesuai kataku, bukan seperti perbuatanku” maka mari kita buang jauh-jauh kata-kata itu. Karena perbuatan jauh lebih menancap dari perkataan. Anak didik kita akan cenderung meniru perbuatan kita daripada apa yang kita katakan. Sehingga dari situ kita dapat berkaca “Sepeti apakah diri kita?”. Karena anak kita atau anak didik kita adalah cerminan diri kita.
Semoga ini menjadi bahan evaluasi bagi kita...
Wallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]
About Admin
This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Popular Posts
-
Terkadang, dalam hidup ini, ada wanita shalihah yang berpisah dengan suaminya. Baik karena bercerai atau suaminya meninggal dunia. Lalu, w...
-
Kelak di akhirat, untuk bisa masuk surga setiap orang harus berhasil melewati shirath. Dari hadits terdahulu kita tahu bahwa ada manusia y...
-
“Ustadzah itu begini dan begitu...” kata itu tertulis pada sebuah kertas yang ditaruh di atas tempat tidur teman saya. Sesaat setelah mem...
-
Manusia (Adam) diciptakan Allah dari tanah. Iblis diciptakan Allah dari api. Malaikat diciptakan Allah dari cahaya. Lalu, bidadari dicipta...
-
Nifaq atau kemunafikan adalah penyakit yang sangat berbahaya, sehingga para sahabat yang sangat kuat keimanannya pun takut jika dirinya di...
-
Alhamdulillah, kita kembali bertemu dalam rubrik Hadits yang kini memasuki pembahasan hadits ke-45 dari Shahih Bukhari , masih berada di ...
-
Disini akan dijelaskan tentang : - Ta'aruf dan - Prosesnya 1. Apakah defenisi dari Ta'aruf ? Taaruf adalah kegiatan bersil...
-
Salah satu adab berdoa adalah merendahkan suara. Yakni memohon kepada Allah dengan lirih dan lembut. Ibnu Taimiyah dalam Tazkiyatun Nafs m...
-
Dosa kecil bisa berubah menjadi dosa besar karena 5 faktor berikut ini: 1. Dilakukan terus menerus Dosa kecil yang dilakukan terus menerus...
-
Seorang muslimah yang baru saja menikah bertanya kepada Syaikh Ahmad Kutty tentang cara bertaubat dari zina yang ia lakukan sebelum menika...
Comments
LINK
http://www.bersamadakwah.com/
- AL-QUR'AN TRANSLATION in MULTI-LANGUAGES
- Al- Qur'an Online
- Al-Qur'an Explorer
- Download Tafsir Ibnu Katsir
- Hadits Online
- ISLAM EVENTS
- ISLAM TOMORROW
- As-Sunnah ME
- An-Nashihah
- Al-Furqon
- Tuntunan Sholat
- Ibnu Taimiyyah
- Syi'ah
- Negara Islam Indonesia
- Islam Jama'ah (LDII)
- Majelis Tafsir Al-qur'an (MTA)
- Hizbut Tahrir
- Ka'bah Real Time
- Arah Qiblat
- Konversi Masehi - Hijriyah
- Kurs Dinar & Dirham
- Software Warisan (Aplikasi)
- Software Warisan (Pascal)
- Keruntuhan Teori Evolusi
- Komunitas Open Source
- Iptek
- OKE
- Fisika Asyik
- Web Kimia Indonesia
- Website Pendidikan
- Crayon Pedia
About Me
Flickr Stream
Latest
Perhitungan pada sistem konversi Masehi – Hijriah ini memungkinkan terjadi selisih H-1 atau H+1 dari tanggal seharusnya untuk tanggal Hijriyah

Tidak ada komentar: